07
SEP
2018

Intercultural Student Camp APTIK 2017: Menjalin Kerjasama dan Berproses Bersama

ISC (Intercultural Student Camp) merupakan kegiatan tahunan yang digelar oleh APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) bagi mahasiswa di 19 perguruan tinggi APTIK. Tahun 2017 ini menjadi sangat istimewa karena ISC dilaksanakan menjelang peringatan Sumpah Pemuda ke-89. Dengan berlokasi di Jakarta dan Bandung, 25 – 28 Oktober 2017, ISC kali ini menjadi medium pengembangan kesadaran para kader muda mahasiswa di perguruan tinggi APTIK juga sebagai Agen Kepedulian dan Agen Kebhinekaan di setiap penjuru negri ini dalam berbagai aksi nyata. Kegiatan yang dirancang panitia berupa dialektika, refleksi, sharing, dan inspirasi dari para tokoh negri dan Gereja. Dengan tema besar “Saya Muda, Saya Peduli, Saya Indonesia” kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan ini senantiasa menjadi semangat mahasiswa dalam Kebhinekaan.

Intercultural Student Camp APTIK 20171

Pembacaan Deklarasi ISC APTIK 2018 di UNIKA Parahyangan, 28/10/2017

Panitia pelaksana ISC kali ini ialah Universitas Katolik  Indonesia Atma Jaya Jakarta dan Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Panitia kali ini membagi 3 bagian besar acara yaitu Pre – Event: Lomba Jingle ISC APTIK 2017, Lomba Foto ISC APTIK 2017, dan Lomba Logo ISC APTIK 2017; kemudian kegiatan utama di Jakarta dan Bandung , dan kegiatan post event: melaksanakan rencana tindak lanjut. Dengan target peserta ialah 100 mahasiswa didampingi oleh Wakil Rektor dan Dosen pendamping, kegiatan ini pada nyatanya diikuti lebih dari 100 mahasiswa, bahkan mencapai 200 mahasiswa dari bahkan 20 Perguruan Tinggi anggota APTIK seluruh Indonesia.

 

Pengalaman Kami Sebagai Peserta

Wartalena Irene (Manajemen 2015) dan Leonardo Sean (Teknik Industri 2015)

Pengalaman ini sangat berharga buat kami. Sebelumnya kami tidak menyangka bahwa akan dipilih untuk menjadi salah satu perwakilan mengikuti ISC 2018. Kami berangkat bersama Ibu Tika pada malam hari 24 Oktober 2017 dengan kereta api. Semua biaya saat itu ditanggung oleh kampus sepenuhnya.

Intercultural Student Camp APTIK 20172

Keseruan di acara penutupan ISC APTIK 2018 sambil menyanyikan Jingle ISC

Sebelum keberangkatan ada banyak hal yang harus kami siapkan. Keperluan pribadi pastinya, melengkapi data – data untuk keperluan administrasi yang diperlukan, dan menyiapkan satu performance yang berkaitan dengan kebudayaan di Surabaya. Persiapan performance inilah yang sangat menyusahkan kami, karena kami merasa tidak ada kebudayaan yang terlalu khas di Surabaya. Akhirnya kami hanya menyiapkan kostum kebaya dan batik dan blankon yang kami pinjam dari kampus dan tema kami. Beruntungnya, mereka mau meminjamkan, padahal saat itu adalah H-2 sebelum keberangkatan.

Perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan kereta api sangatlah panjang. Kami harus duduk di kereta selama 12 jam dan rasanya sangat membosankan. Untuk menghilangkan kebosanan, kadang kami berdiri, makan snack, lalu tidur. Sebenarnya lebih banyak tidurnya, karena merasa agak pusing dengan laju kereta yang kencang. Dan hal yang paling tidak disangka – sangka ialah kami satu kereta dengan mahasiswa perwakilan STIK Vincentius A. Paulo, sangat mengejutkan. Dan di termibal selanjutnya kami juga bertemu dengan mahasiswa perwakilan dari UNIKA Soegijapranata Semarang.

Intercultural Student Camp APTIK 20173Selama kegiatan kami berusaha semaksimal mungkin untuk berelasi dan bersosialiasi. Kami bertemu dengan mahasiswa Universitas anggota APTIK di seluruh Indonesia. Berusaha memahami pola komunikasi yang berbeda merupakan tantangan tersendiri yang unik. Kami agak merasa kesulitan untuk memahami mahasiswa dari Indonesia Bagian Timur, tetapi berhasil berdiskusi dengan mereka. Mereka mahasiswa yang hebat – hebat dengan jiwa sosial yang tinggi. Mereka menceritakan pada kami kegiatan pengabdiam sosial mereka yang mana harus masuk ke daerah – daerah terpencil. Mereka membantu anak – anak di desa – desa yang terpencil untuk bisa belajar dan mirisnya disana sangat terbatas fasilitas, terutama penerangan dan jalur transportasi. Tetapi, kami akhirnya paling akrab dengan mahasiwa dari Unika Soegijapranata Semarang.

Kami merasa kegiatan seperti ini sangat penting untuk dilakukan dan terus – menerus dikembangkan. Kegiatan ini sangat membantu kami untuk bisa mengenal mahasiwa – mahasiswi dari universitas lainnya. Kami juga bisa emndapat pengetahuan – pengetahuan baru tentang kebudayaan berbagai daerah. Saya (Leonardo) baru saja tahu bahwa ada alat musik semacam Sasando dan benar – benar terkesan karena alat ini memiliki senar – senar yang mengelilingi badannya. Saya (Wartalena) merasa terkesan saat adanya diskusi dengan tokoh – tokoh organisasi keagamaan saat dialog terbuka antara kami (mahasiswa) dengan salah satu anggota Gusdurian. Benar – benar open minded dan kami pun bisa memahami berbagai kondisi di sekeliling kami.

Kedua tuan rumah (Jakarta dan Bandung) benar – benar memberikan pelayanan yang terbaik pada kami. Menyediakan segala keperluan kami dengan baik, kalua yang namanya makanan mah sampe tumpah – tumpah. Lalu, dengan mengunjungi kampus mereka kami benar – benar merasakan suasana mahasiswa yang sebenarnya. Mahasiswa yang aktif, kontributif, kritis, dan juga berprestasi. Kami pun melihat bahwa lingkungan kampus sangat mendukung mahasiswanya dan juga memacu mereka untuk menjadi generasi terbaik. Hal yang kami ingat adalah saat di Unika Parahyangan ada tulisan “Nyampah di diung” di setiap sudut  kampus. Disana juga tersedia tempat sampah berdasarkan jenis sampahnya.Intercultural Student Camp APTIK 20174

Kami juga mengunjungi Eco Camp di Bandung. Awalnya kami kira akan menginap di sana, tetapi disana kami diajari untuk bisa menyatu dengan alam, menghargai makanan, dan menghargai usaha para petani. Dan pembicaranya pun mennatang kami, siapa yang mau menjadi petani muda? Entah itu hanya candaan atau kesungguhan, tetapi banyak dari peserta yang berdiri dan ingin menjadi petani muda.

Satu hal yang kami sendiri tidak terlalu sukai adalah pembahasan tentang politik dan agama. Kami berdua agak kurang nyaman dengan hal itu karena takut menyinggung. Tetapi dari perbincangan tentang keorganisasian di masyarakat, mata kami terbuka bahwa di luar sana ada kelompok – kelompok masyarakat yang bisa jadi meruntuhkan kebhinekaan kita sebagai warga negara Indonesia. Dan tak ayal, kami juga berharap di tahun depan masih ada kesempatan untuk bisa bergabung di acara se-eksis itu.